INFOCHANNEL.ID MAKASSAR — Kota Makassar kembali menjadi salah satu titik pertemuan penting bagi industri musik Tanah Air.
Gelaran Soundrenaline Sana Sini yang digelar di pelataran parkir Pipo Mall Makassar, 29 Agustus, bukan hanya menawarkan pertunjukan musik, tetapi juga memperlihatkan bagaimana industri entertainment terus membangun ekosistemnya melalui festival.
Sejumlah musisi dari berbagai generasi dan karakter musik tampil dalam gelaran tersebut. Mereka di antaranya Iwan Fals & Band dalam Special Set, Float, D’Cinnamons, Danilla, Seringai, The SIGIT, Kelompok Penerbang Roket, Ali, Moluccan Soul, dan The Jeblogs.
Kehadiran para musisi tersebut menunjukkan bahwa festival musik masih mempunyai daya tarik kuat di tengah perubahan pola konsumsi hiburan masyarakat yang semakin bergeser ke platform digital.
Bagi pelaku industri musik, panggung festival menawarkan sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa diberikan oleh layanan streaming, yakni pengalaman menyaksikan karya secara langsung sekaligus membangun interaksi antara musisi dan penonton.
Dari Panggung ke Ekosistem Ekonomi
Festival musik pada dasarnya melibatkan rantai industri yang cukup panjang. Di balik penampilan seorang musisi terdapat pekerja produksi, tata suara, tata cahaya, kru panggung, dokumentasi, promosi, keamanan, transportasi hingga berbagai sektor pendukung lainnya.
Ketika sebuah festival digelar, aktivitas ekonomi juga berpotensi bergerak di sekitar lokasi penyelenggaraan. Pengunjung membutuhkan transportasi, makanan, minuman dan berbagai layanan lainnya.
Hal inilah yang membuat festival musik semakin relevan jika dilihat dari perspektif industri kreatif. Pertunjukan tidak berhenti pada hubungan antara artis dan penonton, tetapi menciptakan sebuah ekosistem dengan banyak mata rantai ekonomi.
Makassar sebagai salah satu kota metropolitan di kawasan Indonesia Timur memiliki posisi strategis dalam perkembangan ekosistem tersebut.
Float: Festival Tetap Punya Tempat
Pandangan mengenai pentingnya festival disampaikan Float. Bagi mereka, festival tetap akan mempunyai tempat selama musik masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Festival dianggap sebagai ruang untuk memamerkan karya sekaligus mempertemukan musisi dengan orang-orang yang selama ini menikmati karya mereka.
Bagi Float, Makassar juga mempunyai karakter penonton yang berbeda. Respons penonton yang ekspresif serta suasana yang hangat membuat setiap kesempatan tampil di Kota Daeng memiliki kesan tersendiri
Khusus dalam penampilannya kali ini, Float membawa sembilan lagu dalam setlist yang disiapkan untuk mengajak penonton menikmati kembali sejumlah karya mereka.
D’Cinnamons Bawa Cerita Lama ke Makassar
Bagi D’Cinnamons, tampil kembali di Makassar mempunyai nilai personal tersendiri.
Hubungan mereka dengan publik Makassar telah berlangsung sejak 2007. Saat itu, D’Cinnamons hadir dalam kegiatan promosi film 3 Hari untuk Selamanya.
Rentang waktu yang panjang membuat hubungan tersebut berkembang dari sekadar hubungan antara artis dan penonton menjadi sebuah ikatan dengan komunitas pendengar.
Kembali tampil di Makassar setelah beberapa tahun absen menjadi momentum untuk bertemu kembali dengan pendengar lama sekaligus menjangkau generasi baru yang mengenal karya mereka melalui berbagai platform.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kekuatan sebuah karya musik tidak selalu ditentukan oleh tren sesaat. Lagu yang mampu membangun hubungan emosional dapat terus mempunyai nilai ketika pendengarnya berkembang lintas generasi.
Danilla: Identitas Menjadi Modal Penting
Sementara Danilla menyoroti sisi lain dari perkembangan industri musik.
Kemudahan teknologi membuat produksi dan distribusi lagu menjadi jauh lebih cepat. Namun, kemudahan tersebut juga membuat persaingan memperoleh perhatian audiens semakin besar.
Di tengah derasnya arus rilisan baru di berbagai platform streaming, Danilla menilai kejujuran dalam berkarya tetap menjadi fondasi penting.
Menjaga karakter musik dan tetap dekat dengan komunitas grassroots menjadi salah satu cara agar seorang musisi tidak kehilangan identitas di tengah perubahan industri.
Persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana sebuah lagu bisa diproduksi dan didistribusikan, tetapi bagaimana karya tersebut mampu membangun hubungan dengan pendengar.
Makassar dan Masa Depan Entertainment Indonesia Timur
Gelaran Soundrenaline Sana Sini memperlihatkan bahwa pasar musik di luar pusat industri nasional tetap mempunyai potensi besar.
Makassar memiliki basis penonton yang beragam, komunitas kreatif yang aktif serta posisi geografis yang strategis sebagai pintu gerbang menuju kawasan Indonesia Timur.
Kehadiran festival dengan lineup lintas genre dan generasi juga memperlihatkan bahwa konsumsi hiburan masyarakat semakin beragam.
Penonton tidak hanya mencari artis populer, tetapi juga pengalaman, komunitas dan atmosfer yang tercipta dalam sebuah pertunjukan.
Karena itu, keberlanjutan festival musik dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat industri entertainment sekaligus ekonomi kreatif daerah.
Soundrenaline Sana Sini di Makassar pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang naik ke atas panggung.
Lebih dari itu, gelaran tersebut menjadi gambaran tentang bagaimana musik, komunitas, bisnis pertunjukan dan ekonomi kreatif saling terhubung.
Ketika karya bertemu dengan audiens secara langsung, tercipta bukan hanya pengalaman hiburan, tetapi juga perputaran aktivitas ekonomi yang menopang banyak pelaku di belakang layar.
















