INFOCHANNEL.ID,MAKASSAR – Krisis energi yang mulai melanda sejumlah negara di Asia menjadi peringatan serius bagi stabilitas global. Lonjakan harga serta keterbatasan pasokan bahan bakar minyak (BBM) dinilai berpotensi meluas hingga ke kawasan lain, termasuk Eropa.
Ketua Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) Sulawesi Selatan, Boas Singkali, menilai kondisi tersebut sebagai sinyal kuat bahwa ketahanan energi merupakan isu krusial yang tidak bisa diabaikan oleh setiap negara.
“Krisis global, utamanya bahan bakar minyak, sangat berdampak. Kita sudah melihat beberapa negara di Asia terdampak, dan ini berpotensi menjalar ke Eropa,” ujarnya.
Di tengah tekanan global tersebut, ia menilai Indonesia berada pada posisi yang relatif lebih siap dibanding sejumlah negara lain. Hal ini, menurutnya, tidak terlepas dari langkah pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang memprioritaskan penguatan sektor pangan dan energi sejak awal pemerintahan.
Boas menyebut kebijakan tersebut mulai menunjukkan hasil di lapangan, terutama dalam menjaga ketersediaan pangan sebagai fondasi menghadapi dampak krisis global yang semakin kompleks.
“Kerja-kerja pemerintah memberikan dampak baik. Sejak awal pemerintahan, program sudah disiapkan dan hasilnya mulai terlihat, terutama swasembada pangan yang akan menuju ke swasembada energi,” jelasnya.
Ia menilai pendekatan pemerintah yang fokus pada kebutuhan dasar masyarakat, bukan semata proyek besar, merupakan strategi tepat di tengah ketidakpastian global. PIKI Sulsel pun menyatakan dukungan terhadap arah kebijakan tersebut.
“Kami dari PIKI mendukung pemerintah, dan mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mendukung kerja-kerja pemerintah,” tegasnya.
Selain itu, Boas juga menyoroti eskalasi konflik global yang berpotensi mengganggu stabilitas energi nasional. Meski demikian, ia optimistis Indonesia mampu menghadapi tekanan tersebut selama fondasi ketahanan dalam negeri terus diperkuat.
“Jika eskalasi meluas, tetapi ekosistem di negara kita sudah diperkuat, terutama pangan dan energi, maka kita bisa melalui ini dengan baik,” ujarnya.
Sebagai langkah tambahan, ia mengusulkan efisiensi energi melalui penerapan pola kerja fleksibel, seperti work from home (WFH) secara terukur. Menurutnya, kebijakan tersebut dapat membantu menekan konsumsi energi tanpa mengganggu produktivitas.
“WFH bisa jadi solusi, tapi sebaiknya di tengah minggu seperti hari Rabu. Kalau di akhir pekan, justru cenderung dimanfaatkan sebagai waktu libur sehingga tidak efektif dalam penghematan energi,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Boas mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap menjaga stabilitas nasional dan mendukung kebijakan pemerintah di tengah dinamika global.
“Kritik itu boleh, tetapi harus melalui jalur yang tepat. Dengan dukungan seluruh masyarakat, Indonesia bisa mengendalikan inflasi dan mencapai kesejahteraan bersama,” pungkasnya.















